Penamerah.co.id Kubu Raya – Proyek pembangunan Markas Komando (Mako) Yonif TP 882/Hulubalang di Desa Tebang Kacang, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, kini menjadi sorotan. Proyek yang dibiayai melalui anggaran Kementerian Pertahanan RI itu diduga menyimpan sejumlah kejanggalan, mulai dari dugaan pengurangan spesifikasi material hingga indikasi mark-up pengadaan barang.
Berdasarkan hasil investigasi media, pembangunan kompleks markas militer tersebut mencakup dua barak, dua kompi, satu dapur, satu gedung garasi, satu Makoyon, serta satu gedung serbaguna. Namun, dari sejumlah bangunan yang direncanakan, terdapat beberapa pekerjaan yang hingga kini disebut belum rampung dikerjakan.
Proyek yang dilaksanakan oleh PT ABA itu kini menjadi perhatian publik setelah muncul informasi mengenai dugaan penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi.
Salah satu temuan yang mencuat adalah dugaan penggunaan rangka baja dengan ketebalan sekitar 0,65 milimeter. Padahal, berdasarkan keterangan narasumber di lokasi yang mengetahui pekerjaan tersebut, spesifikasi yang seharusnya digunakan disebut mencapai 0,95 milimeter.
Tak hanya itu, Keterangan Narasumber sama juga mengungkapan adanya dugaan pengurangan penggunaan besi pada beberapa bagian struktur bangunan, termasuk pada pekerjaan lantai cor dan tiang bangunan”ujarnya
“Yang digunakan diduga tidak sesuai spesifikasi. Ketebalan rangka baja disebut sekitar 0,65 milimeter, sementara yang direncanakan sekitar 0,75 milimeter. Selain itu, ada dugaan pengurangan penggunaan besi pada sejumlah bagian konstruksi,” ungkap sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Jika dugaan tersebut terbukti melalui audit teknis dan pemeriksaan resmi, maka kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas, kekuatan, dan umur bangunan yang dibangun menggunakan uang negara.
Kejanggalan lain yang ditemukan di lapangan adalah tidak terlihatnya papan informasi proyek. Padahal, proyek yang menggunakan anggaran negara semestinya memuat informasi terbuka mengenai pelaksana pekerjaan, nilai kontrak, sumber anggaran, dan masa pelaksanaan sebagai bentuk transparansi kepada publik.
Informasi yang dihimpun media juga menyebutkan bahwa pekerjaan tersebut sebelumnya ditangani seorang mandor berinisial HL. Setelah yang bersangkutan disebut tidak lagi terlibat dan dikabarkan berstatus Kabur, pekerjaan diduga dilanjutkan oleh pihak lain berinisial JI dan MS.
Munculnya publik berbagai tanggapan pada masyarakat mempertanyakan pengawasan terhadap proyek yang diperuntukkan bagi kepentingan pertahanan negara.
“Kalau bangunan militer TNI RI yang menggunakan uang negara saja sampai di mainkan dengan mengurangi bahan mentrial bangunan juga tidak sesuai spesifikasi, bagaimana dengan proyek lainnya? Karena itu perlu audit terbuka agar semuanya jelas,” ujar seorang warga.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya memperoleh konfirmasi dari PT Agro Buana Abadi (ABA), pihak berinisial JI dan MS, serta unsur pengawasan dari Kodam XII/Tanjungpura. Namun, belum ada tanggapan yang diperoleh.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak yang disebut dalam pemberitaan ini sesuai ketentuan Undang-Undang Pers













