Daerah  

Tokoh Adat Mambuk: Hormati Hukum Adat sebagai Jalan Penyelesaian Persoalan Masyarakat 

Penamerah.co.id Ketapang Kalbar – Masyarakat Dusun Mambuk, Desa Segar Wangi, Kecamatan Tumbang Titi, menggelar rangkaian kegiatan adat Melayu sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penutup rangkaian pembukaan Portal Adat di Divisi I Sungai Landau yang berlangsung selama kurang lebih 24 hari. Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Bola Dusun Mambuk pada Jumat (17/7) itu menjadi momentum mempererat persatuan masyarakat, pemuda, pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, serta perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut.

Acara terlaksana melalui kolaborasi Karang Taruna,Barisan Pemuda Melayu (BPM) dan berbagai elemen masyarakat. Pendanaan kegiatan berasal dari fasilitas adat yang merupakan bagian dari tuntutan masyarakat Mambuk dan telah dipenuhi oleh pihak PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA).

Kegiatan turut dihadiri Kapolsek Tumbang Titi, perwakilan Koramil, anggota DPRD Kabupaten Ketapang dari Partai Amanat Nasional (PAN) Mohtar, perwakilan PT BGA, PT Nova, PT IMI, PT NAA,PT.BBT,Perwakilan DPD BPM Ketapang, tokoh agama, tokoh adat, perangkat Desa Segar Wangi, serta ratusan warga Dusun Mambuk.

Suasana semakin semarak dengan penampilan Hadrah dari Majelis Salawat Nurul Huda Desa Segar Wangi yang mengiringi jalannya acara sejak siang hingga malam hari.

Dalam sambutannya, Penjabat Kepala Desa Segar Wangi, Suryadi Oland, mengajak seluruh perusahaan yang berinvestasi di wilayah Desa Segar Wangi untuk terus membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat.

“Kami berharap lima perusahaan yang beroperasi di wilayah Desa Segar Wangi dapat terus bersinergi dan berkolaborasi bersama pemerintah desa dan masyarakat. Kehadiran perusahaan harus mampu memberikan manfaat serta menjaga hubungan yang baik dengan masyarakat adat,” ujarnya.

Suryadi juga mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat yang mampu menyelenggarakan kegiatan budaya sebagai ruang memperkuat persaudaraan serta melestarikan adat istiadat Melayu.

Mewakili tokoh adat Dusun Mambuk, Thamrin menyampaikan bahwa komunikasi antara perusahaan dan lembaga adat harus terus dijaga agar setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat dapat diselesaikan secara baik.

Ia berharap setiap kejadian, insiden maupun persoalan sosial yang terjadi di wilayah adat senantiasa dikoordinasikan dengan para pemangku adat sehingga penyelesaiannya dapat ditempuh melalui musyawarah.

Thamrin juga menegaskan bahwa hukum adat memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat adat.

“Hukum adat memiliki posisi yang sejajar dalam penyelesaian persoalan yang berkaitan dengan adat istiadat. Karena itu kami berharap setiap pihak tetap menghormati mekanisme adat yang berlaku di wilayah ini,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Thamrin menyampaikan apresiasi kepada PT BGA yang telah merespons tuntutan masyarakat terkait Tanah Kas Desa (TKD). Ia berharap perusahaan-perusahaan lain yang berinvestasi di wilayah Desa Segar Wangi juga terus membangun komunikasi dan kepedulian terhadap masyarakat.

Selain sambutan para tokoh, kegiatan juga dimeriahkan dengan atraksi Silat Kutemare yang diperagakan para tetua adat bersama generasi muda Dusun Mambuk sebagai simbol pewarisan budaya kepada generasi penerus.

Nuansa budaya Melayu semakin terasa ketika Penjabat Kepala Desa Segar Wangi, Suryadi Oland, melantunkan Syair Gulung, salah satu tradisi lisan yang menjadi identitas budaya masyarakat.

Sementara itu, Ketua MUI Kecamatan Tumbang Titi, Ustaz Adi, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga persatuan serta menjalin sinergi dengan para ulama dalam meneruskan nilai-nilai perjuangan para pendahulu.

“Pemuda merupakan penerus bangsa. Karena itu mari kita bersama-sama menjaga persatuan, menghormati adat, dan bersinergi dengan para ulama agar semangat perjuangan para pendahulu tetap hidup di tengah masyarakat,” pesannya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembacaan doa selamat dan doa tolak bala yang dipimpin Ustaz Toto, memohon keselamatan, keberkahan, dan kedamaian bagi seluruh masyarakat Desa Segar Wangi.

Memasuki malam hari, suasana kebersamaan semakin terasa melalui hiburan hadrah yang kembali ditampilkan, disertai jamuan makan sekampung.

Kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa pelestarian budaya, penguatan hukum adat, serta sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha dapat berjalan berdampingan sebagai fondasi menjaga keharmonisan dan pembangunan di Desa Segar Wangi.

(Red)