Berita  

Lobi Politik Keluarga Gubernur Kalbar Diduga Upaya Intervensi Kasus Korupsi PUPR Mempawah

Penamerah.co.idKalbar| Sebuah foto yang tersebar di media sosial memicu gejolak opini publik Kalimantan Barat. Dalam gambar tersebut terlihat *Arif Rinaldy*, anggota DPRD Kalbar dari Partai Golkar sekaligus **putra tertua Gubernur Kalbar Ria Norsan*, sedang duduk bersama *Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad* dan *Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad*. Momen itu viral, bukan karena kebetulan ketiga tokoh bertemu, tapi karena terjadi *di tengah pusaran kasus korupsi besar-besaran yang ditangani KPK* di Kabupaten Mempawah—kasus yang menyeret *keluarga besar Gubernur Kalbar*.

 

*Beredar Dugaan: Lobi Politik atau Manuver Penyelamatan?*

 

Publik menduga kuat bahwa pertemuan tersebut bukan pertemuan biasa. Foto itu dinilai sebagai bagian dari **manuver politik untuk menekan penegakan hukum KPK*

, khususnya dalam kasus peningkatan jalan Dinas PUPR Mempawah dan korupsi BP2TD yang sudah menyeret banyak nama, termasuk *adik kandung gubernur, Ria Mulyadi*, mantan Ketua DPRD Mempawah.

 

*Spekulasi lobi kekuasaan mencuat.* Arif Rinaldy, sebagai representasi politik dinasti Kalbar, dituding sedang merapat ke barisan partai penguasa untuk meredakan badai yang berpotensi merobohkan “kerajaan politik” keluarganya. Dugaan masyarakat bukan tanpa dasar, mengingat *nyaris seluruh proyek strategis dan jabatan politik di Mempawah dikendalikan keluarga Norsan*

 

*Korupsi Terstruktur dan Politik Dinasti yang Menggurita*

 

Sejak lama, publik mencurigai bahwa proyek-proyek besar di Mempawah, termasuk jalan, pengadaan alat berat, hingga pembangunan kawasan, dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan keluarga penguasa. *Skema proyek-proyek siluman* dan *penunjukan langsung tanpa proses lelang yang sehat* menjadi kebiasaan.

 

Kasus yang kini ditangani KPK membuka sedikit demi sedikit fakta: *dugaan korupsi tidak dilakukan individu, tapi melalui sistem keluarga yang tertata rapi*. Ini adalah bentuk korupsi yang lebih berbahaya—korupsi yang dibungkus legitimasi politik dan dikendalikan dari dalam sistem.

 

*Pemerintah Kalbar Nyaris Lumpuh: Gubernur Lebih Sibuk Selamatkan Dinasti*

 

Sudah lebih dari

100 hari , pemerintahan Kalbar berjalan tanpa arah. *Gubernur Ria Norsan lebih sering berada di Jakarta*, bukan untuk urusan pemerintahan provinsi, melainkan diduga sibuk mengatur strategi penyelamatan hukum untuk keluarganya. Rapat penting banyak dibatalkan, agenda pembangunan tertunda, dan pertemuan masyarakat dengan pemimpin daerah makin jarang terjadi.

 

Kini, *Wakil Gubernur praktis menjadi pengendali utama pemerintahan*, sementara gubernur terlihat lebih aktif di lingkar kekuasaan pusat. *Ini adalah preseden buruk dalam tata kelola daerah—saat kepala daerah abai terhadap rakyat demi menyelamatkan kerabat.*

 

*Media Dibungkam, Ormas Digerakkan: Demokrasi dalam Ancaman*

 

Investigasi internal media kami menemukan bahwa *upaya membungkam suara kritis kini menjadi bagian dari skenario besar menutupi kasus.* Beberapa wartawan lokal mendapat kunjungan dari orang-orang yang mengaku “utusan pemerintah”, menawarkan kontrak kemitraan media yang disertai syarat: *tidak boleh memberitakan lagi kasus korupsi Mempawah.*

 

Tak hanya itu, *ormas tertentu mulai digunakan sebagai alat tekanan* untuk membungkam pihak-pihak yang bersuara keras. Dari aktivis mahasiswa, LSM, hingga wartawan investigatif, *semua mulai merasa terintimidasi.*

 

> “Mereka tidak hanya membungkam suara, tapi mencoba membunuh nalar publik,” ujar salah satu wartawan lokal.

 

*Tuntutan Rakyat: KPK Harus Bertindak Tegas, Jangan Tunduk pada Lobi Politik*

 

Kini masyarakat Kalbar menaruh harapan besar pada *KPK*. Bukan sekadar penegakan hukum, tetapi sebagai *penyelamat integritas demokrasi* di provinsi ini. Tidak ada waktu lagi untuk kompromi. *Jika KPK menyerah pada tekanan politik, maka yang runtuh bukan hanya satu kasus, tapi kepercayaan rakyat terhadap hukum.*

 

Publik menanti langkah nyata: *penangkapan, penggeledahan, penyitaan, dan penahanan terhadap semua pihak yang terlibat—tanpa pandang bulu, tanpa takut pada status, partai, atau posisi.*

 

*Penutup: Kalbar di Persimpangan, Dinasti atau Demokrasi?*

 

Apa yang terjadi di Mempawah bukan sekadar kasus hukum biasa. Ini adalah *ujian besar bagi sistem demokrasi daerah* Apakah kekuasaan masih bisa dijalankan berdasarkan amanat rakyat? Atau justru dikuasai oleh kelompok keluarga dan jaringan politik yang korup?

 

*Kalbar kini berada di titik balik.* Rakyat sudah bicara. Sekarang giliran KPK membuktikan keberaniannya.

 

Tim : Redaksi