Berita  

Laskar Kedang dan Pemerintah Satukan Langkah Jaga Marwah Maqam Panglima Tentemak

Penamerah.co.id Ketapang Kalbar| Menindaklanjuti pelaksanaan Ziarah Akbar 7 Februari 2026 di Maqam Panglima Tentemak, denyut semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan adat serta sejarah Melayu terus terpelihara. Kegiatan ini menjadi wujud nyata ikhtiar anak negeri dalam menjaga pusaka perjuangan para pendahulu yang telah menumpahkan keringat, darah, dan jiwa demi marwah tanah air.

Panitia Ziarah Akbar yang berhimpun dalam Laskar Kedang menjalin muafakat dan sepakat bersama Pemerintah Kecamatan Pemahaman serta Pemerintah Desa Pengatapan Raya, berlandaskan nilai adat Melayu: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Sinergi ini diarahkan untuk menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali nilai-nilai kepahlawanan Panglima Tentemak sebagai teladan keberanian, keimanan, dan kecintaan pada negeri.

Sebagai bagian dari tindak lanjut, panitia melaksanakan silaturahmi adat sekaligus menyerahkan amanah donasi Ziarah Akbar kepada Pemerintah Desa Pengatapan Raya. Penyerahan ini bukan sekadar administratif, melainkan cerminan nilai luhur adat Melayu bahwa amanah wajib dijunjung tinggi, dan titipan umat harus disampaikan dengan jujur serta penuh tanggung jawab demi keberlangsungan perawatan Maqam Panglima Tentemak yang disakralkan masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, bendera Laskar Kedang diserahkan untuk dipasang di kawasan makam. Bendera tersebut menjadi lambang penghormatan dan penjaga marwah, penanda bahwa tapak sejarah ini dijaga dengan sepenuh hati oleh anak cucu pewaris nilai perjuangan Panglima Tentemak.

Seluruh rangkaian kegiatan ini berada dalam koordinasi Sekretaris Kecamatan Pemahaman, Abu Haira, S.IP., M.Sos, yang sejak awal hingga pascakegiatan menunjukkan komitmen kuat dalam merajut kebersamaan antara masyarakat adat dan pemerintah. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa nilai adat Melayu tetap hidup dan sejalan dengan tata kelola pemerintahan modern.

Meski Kepala Desa Pengatapan Raya berhalangan hadir secara langsung karena harus menghadiri musyawarah dan acara adat yang tidak dapat ditinggalkan, beliau menyampaikan permohonan maaf serta menegaskan komitmen penuh untuk menjaga, merawat, dan memuliakan Maqam Panglima Tentemak. Sikap tersebut mencerminkan sosok pemimpin yang memahami adat: pantang melupakan asal, pantang mengabaikan pusaka.

Dalam pernyataannya, Panglima Kedang sekaligus Ketua Panitia Pimpinan Laskar Kedang, Ustaz Muhammad Iswadi (Ami Adi), menyampaikan setinggi-tinggi penghargaan kepada seluruh pihak yang telah bergandeng tangan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Ziarah Akbar dan seluruh tindak lanjutnya lahir dari ikatan persaudaraan, keikhlasan niat, serta semangat gotong royong yang menjadi sendi kehidupan masyarakat Melayu sejak dahulu.

Lebih jauh, ia kembali menegaskan ikhtiar besar agar tokoh-tokoh yang diziarahi, termasuk Panglima Tentemak, kelak dapat diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Menurutnya, pengakuan tersebut merupakan bentuk pemuliaan jasa para leluhur sekaligus jalan untuk mengangkat harkat dan martabat daerah.

Ia berharap Maqam Panglima Tentemak dapat berkembang sebagai pusat ziarah religi dan sejarah Melayu, menjadi ruang pendidikan nilai kepahlawanan, adat, dan jati diri bangsa bagi generasi penerus, serta membuka peluang kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, Ziarah Akbar beserta seluruh tindak lanjutnya menjadi api perjuangan yang dijaga agar tetap menyala, menyatukan pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat dalam satu tekad: memelihara warisan Panglima Tentemak sebagai sumber ilham, pemersatu umat, dan kebanggaan anak negeri lintas generasi.

Ami Adi juga mengingatkan akan petuah melayu ” Adat dijaga marwah terpelihara,pusaka dirawat negeri bermakna.Jasa leluhur tidak dilupa,menjadi suluh anak cucu sepanjang masa,.

Ungkapan iitu bermakna bahwa adat istiadat adalah penyangga kehormatan (marwah). Selama adat dijaga dan pusaka dirawat, jati diri negeri tetap hidup dan bermakna.

Menghormati serta mengingat jasa para leluhur bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjadikannya cahaya penuntun (suluh) bagi generasi penerus agar tidak kehilangan arah sepanjang zaman”tutupnya

 

(Red)