Penamerah.co.id,Melawi, Kalbar, 29 Juni 2026 – Di atas aliran Sungai Bakah, Kecamatan Pinoh Selatan, berdiri sebuah jembatan apung sederhana yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Jembatan tersebut bukan hasil proyek pemerintah ataupun pembangunan bernilai miliaran rupiah, melainkan lahir dari kepedulian seorang warga, Petrus Lontoh, yang rela mengeluarkan dana pribadinya demi membantu masyarakat memperoleh akses penyeberangan yang layak.
Dengan biaya sekitar Rp300 juta, jembatan apung itu berhasil dibangun pada November 2023. Meski hanya menggunakan drum sebagai pelampung dan konstruksi kayu sederhana, keberadaan jembatan tersebut mampu membuka akses vital bagi masyarakat Desa Sungai Bakah dan desa-desa sekitarnya.
Berdasarkan pantauan jurnalis Suara Kalbar di lapangan, jembatan itu memang jauh dari kata mewah. Namun fungsinya sangat penting karena menghubungkan aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga kehidupan sosial masyarakat.
“Kalau tidak ada jembatan ini, kami akan kesulitan membawa hasil kebun untuk dijual ke Kota Nanga Pinoh,” ujar Ujang, salah seorang warga Desa Sungai Bakah.
Saat pertama kali dibangun, jembatan apung tersebut menjadi simbol semangat gotong royong dan kepedulian masyarakat. Warga bersama-sama mendukung pembangunan akses yang selama ini mereka dambakan, dengan harapan suatu saat pemerintah dapat menggantinya dengan jembatan permanen yang lebih aman dan kokoh.
Namun hingga pertengahan tahun 2026, harapan tersebut belum juga terwujud.
Seiring bertambahnya usia, kondisi jembatan kini mulai memprihatinkan. Lantai kayu terlihat lapuk di sejumlah titik, beberapa bagian mengalami kerusakan, dan kekuatan konstruksinya terus menurun. Kondisi ini dinilai semakin membahayakan keselamatan masyarakat yang setiap hari melintasi jembatan tersebut.
Ironisnya, belum tersedia jalur alternatif yang memadai sehingga warga tetap bergantung pada jembatan apung itu untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Tragedi kecelakaan yang terjadi belum lama ini menjadi peringatan bahwa persoalan ini bukan lagi sekadar menyangkut infrastruktur, tetapi juga keselamatan jiwa masyarakat.
Warga mengungkapkan bahwa rencana pembangunan jembatan permanen sebenarnya telah beberapa kali disampaikan. Bahkan pemerintah desa pernah diminta mengurus proses pembebasan lahan sebagai bagian dari persiapan pembangunan. Namun hingga kini, belum terlihat adanya realisasi pekerjaan fisik.
Jembatan Apung Sungai Bakah menjadi bukti nyata bahwa kepedulian masyarakat mampu menghadirkan solusi ketika kebutuhan mendesak belum terpenuhi. Namun pengorbanan warga yang membangun jembatan dengan dana pribadi tidak seharusnya menjadi alasan untuk menunda pembangunan infrastruktur permanen yang menjadi tanggung jawab pemerintah.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Melawi maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dapat segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen berbahan beton dan baja agar aktivitas warga dapat berlangsung dengan aman dan nyaman.
“Kami memohon kepada pemerintah agar Desa Sungai Bakah segera dibangun jembatan permanen dengan konstruksi beton dan baja. Kami hanya ingin memiliki akses yang aman untuk menunjang kehidupan masyarakat,” harap salah seorang warga.
Hingga kini, masyarakat Sungai Bakah tidak meminta kemewahan. Mereka hanya menginginkan sebuah jembatan yang aman, layak dilalui, dan mampu melindungi setiap orang yang melintas. Harapan sederhana itu kini menunggu jawaban nyata dari pemerintah.
Sumber : Petrus Lontoh
Pewarta : Djong Eko













