Berita  

Shalat Istisqa Tumbang Titi Berlangsung Khidmat, Jemaah Diajak Bermuhasabah: Kita Berikhtiar, Allah yang Menentukan Hasil

Penamerah.co.id Tumbang Titi, — Di tengah sumur-sumur warga yang mulai mengering, kebun-kebun yang dilanda kekeringan, asap yang masih mengganggu udara, dan sebagian masyarakat yang mulai merasakan dampak gangguan pernapasan, ratusan jemaah berkumpul di Masjid Besar Al-Hidayah, Kecamatan Tumbang Titi.

Pagi itu, mereka tidak datang membawa banyak bekal. Mereka datang membawa doa, penyesalan, harapan, dan keyakinan bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mampu menurunkan hujan.

Pelaksanaan Salat Istisqa berlangsung khidmat. Jemaah dari desa-desa sekitar Kecamatan Tumbang Titi hadir bersama para tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus masjid, serta perwakilan unsur keamanan dan pemerintahan.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Tumbang Titi bersama Masjid Besar Al-Hidayah yang memfasilitasi tempat pelaksanaan.

Rangkaian kegiatan dipandu Ustaz Huseini, Sekretaris MUI Kecamatan Tumbang Titi, sebagai pembawa acara sekaligus pengarah. Sebelum salat dimulai, ia menjelaskan tata cara Salat Istisqa kepada jemaah.

Penjelasan tersebut menjadi penting karena tidak semua jemaah memahami tata cara Salat Istisqa. Mereka pun diingatkan bahwa apabila hujan belum turun setelah salat dilaksanakan, jangan kemudian berkecil hati.

Sebab manusia hanya diperintahkan berikhtiar dan menjalankan perintah Allah.

Hasilnya bukan berada di tangan manusia. Hasil adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pesan itu menjadi salah satu ruh utama pelaksanaan Salat Istisqa pagi tersebut.

Sebagai imam, tampil Ustaz Zaki, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Fatwa MUI Kecamatan Tumbang Titi. Sementara khutbah disampaikan Ustaz Muhammad Iswadi, Ketua MUI Kecamatan Tumbang Titi. Turut terlibat Januardi, Wakil Ketua Bidang Budaya MUI Kecamatan Tumbang Titi.

Ketika Sumur Mengering, Manusia Diajak Menengok ke Dalam Diri

Dalam khutbahnya, Ustaz Muhammad Iswadi menyampaikan bahwa Salat Istisqa yang dilaksanakan hari itu terasa sangat tepat melihat kondisi yang sedang dihadapi masyarakat.

Kekeringan telah mulai dirasakan di berbagai wilayah Kecamatan Tumbang Titi. Banyak sumur warga yang airnya semakin berkurang, bahkan sebagian telah mengering.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian masyarakat bahkan harus membeli air bersih.

Kebun-kebun masyarakat pun ikut terdampak. Tanah mengering, tanaman membutuhkan air, dan sejumlah kebun warga bahkan telah mengalami kebakaran.

Di tengah kondisi tersebut, asap dan cuaca panas juga semakin dirasakan masyarakat. Gangguan kesehatan, khususnya keluhan pada saluran pernapasan, mulai menjadi perhatian.

Namun khatib mengajak jemaah untuk tidak berhenti pada persoalan kekeringan secara lahiriah.

Di balik tanah yang kering, ada hati yang perlu diperiksa. Di balik sumur yang mengering, ada manusia yang perlu bermuhasabah.

Jemaah diajak kembali kepada Allah dengan memperbanyak istighfar, bertobat dan memperbaiki amal.

Bukan Hanya Meminta Hujan, Tetapi Memohon Ampunan

Khutbah kemudian mengajak seluruh jemaah melakukan muhasabah.

Manusia diminta melihat kembali perjalanan hidupnya: apakah sudah cukup dekat dengan Allah, apakah sudah menjaga hubungan dengan sesama, dan apakah masih terdapat kesombongan, iri hati, dengki serta berbagai penyakit hati lainnya.

Jemaah juga diajak mengakui kelalaian dalam memakmurkan rumah Allah.

Masjid adalah rumah Allah. Namun manusia terkadang begitu sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa memakmurkannya dengan salat, membaca Al-Qur’an, zikir, ilmu dan amal kebaikan.

Khatib juga mengingatkan tentang bahaya kesombongan—ketika seseorang merasa dirinya lebih baik, lebih mulia, lebih kaya, lebih pintar atau lebih tinggi daripada orang lain.

Begitu pula hasad, iri dan dengki.

Sifat tersebut bukan sekadar penyakit hati. Jika dibiarkan, ia dapat merusak persaudaraan. Seseorang bisa tidak senang melihat saudaranya memperoleh nikmat, kemudian lahir prasangka, kebencian, permusuhan, bahkan putusnya tali silaturahmi.

Karena itu, Salat Istisqa menjadi momentum untuk membersihkan diri.

Meminta hujan dari langit sekaligus memohon agar hati manusia disirami rahmat dan ampunan Allah.

Doa Mengalir, Air Mata Pun Jatuh

Suasana semakin berubah ketika memasuki khutbah kedua dan doa.

Khatib menyampaikan pengakuan atas kelemahan dan dosa manusia. Jemaah diajak memohon ampun atas kelalaian, kesombongan, iri hati, dengki dan berbagai dosa yang mungkin selama ini dilakukan.

Doa itu disampaikan dengan penuh penghayatan.

Sebagian jemaah terlihat meneteskan air mata. Ada yang menundukkan kepala, ada yang mengusap wajah, dan terdengar pula suara tangisan serta isak-isak dari sejumlah jemaah.

Pagi itu, masyarakat tidak hanya sedang meminta air untuk membasahi bumi.

Mereka sedang mengetuk pintu langit dengan doa dan air mata.

Tidak ada manusia yang mampu memaksa hujan turun. Tidak ada pula yang mengetahui kapan Allah akan menurunkan rahmat-Nya.

Tetapi manusia mampu melakukan satu hal: berikhtiar, berdoa, bertobat dan menjalankan perintah Allah.

Selebihnya, biarlah Allah yang menentukan hasilnya.

Dihadiri Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Unsur Keamanan

Pelaksanaan Salat Istisqa turut dihadiri perwakilan Polsek Tumbang Titi, dalam hal ini Bapak Dwi, perwakilan Koramil Tumbang Titi, pengurus Masjid Besar Al-Hidayah beserta jemaahnya, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jemaah dari desa-desa sekitar.

Seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib, khidmat dan lancar hingga selesai.

Setelah pelaksanaan, sedekah yang telah disiapkan turut dibagikan kepada jemaah. Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama.

Salat Istisqa di Masjid Besar Al-Hidayah Tumbang Titi akhirnya meninggalkan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar menunggu turunnya hujan.

Ketika bumi mengering, manusia kembali menengadah. Ketika sumur-sumur kehilangan air, hati-hati manusia diajak mencari sumber rahmat. Dan ketika usaha telah dilakukan, manusia belajar untuk menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebab pada akhirnya, kita berikhtiar dan menjalankan perintah Allah. Allah-lah yang menentukan hasil.

Semoga doa yang dipanjatkan hari itu menjadi sebab turunnya rahmat Allah: hujan yang membasahi bumi, menghidupkan kembali sumur-sumur warga, menyegarkan kebun-kebun masyarakat, memadamkan api, membersihkan udara dari asap, dan menenteramkan hati seluruh masyarakat Tumbang Titi.

 

(Red)