Berita  

Misteri Solar Hilang di Kapuas Hulu: Dugaan Pengalihan ke Tambang Emas dan Bayang-Bayang Oknum Pejabat

Penamerah.co.idKapuas Hulu, Kalbar| Di tengah antrean panjang sopir truk yang menunggu giliran di SPBU Sungai Besar, Kecamatan Bunut Hulu, aroma kecurigaan makin kuat. Solar bersubsidi kembali langka, dan publik mulai bertanya: ke mana perginya ribuan liter BBM itu setiap malam?

Solar Habis Sebelum Tengah Hari

Setiap Rabu dan Jumat, antrean kendaraan sudah mengular sejak pagi. Namun sebelum matahari tegak, solar sudah dinyatakan habis. Padahal, kapasitas tangki SPBU ini mencapai 8.000 liter per hari. Yang tersisa hanya jatah 44 liter per kendaraan, cukup untuk menempuh beberapa ratus kilometer—bukan untuk hidup.

“Baru 12 mobil yang isi, langsung habis. Mustahil,” keluh Ebong, sopir ekspedisi asal Sintang. “Kami yang kerja di jalan ini malah disuruh sabar, sementara ada yang bebas ngambil malam-malam.”

Truk Besar Mengisi di Tengah Malam

Kecurigaan warga menguat setelah beberapa saksi mengaku melihat aktivitas pengisian solar di luar jam operasional. Truk-truk besar, bukan kendaraan biasa, disebut rutin datang sekitar pukul 23.00 WIB, mengisi hingga penuh tanpa antre.

“Saya sering lihat sendiri,” ungkap seorang warga yang enggan disebut namanya. “Malam hari mereka isi, besok paginya solar langsung habis. Kayak ada dua sistem: siang untuk rakyat, malam untuk orang dalam.”

Menurut dugaan warga, solar yang diambil malam hari itu dialirkan ke tambang emas ilegal di pedalaman Kapuas Hulu, milik pihak berpengaruh di daerah tersebut. “Kami dengar untuk tambang emas pribadi. Jadi bukan sekadar solar hilang tapi ada permainan besar di baliknya,” ujar sumber lain.

Jejak Kekerabatan dan Kekuasaan

Nama Pak Japit, pemilik SPBU Sungai Besar, ikut disebut-sebut dalam percakapan warga. Ia diduga memiliki hubungan keluarga dengan Wakil Bupati Kapuas Hulu. Manajer SPBU juga dikabarkan masih satu lingkaran dengan pejabat setempat. Dugaan ini memperkuat spekulasi bahwa ada tangan kuat yang melindungi praktik penyimpangan BBM bersubsidi.

Pihak SPBU saat dikonfirmasi hanya menjawab singkat bahwa “stok solar sedang kosong”, tanpa memberi kepastian kapan pasokan normal kembali. Namun, bagi para sopir dan warga, jawaban itu tak lagi cukup.

Desakan untuk Investigasi

“Ini bukan sekadar kelangkaan. Ini dugaan penyelewengan,” tegas Ebong. Ia bersama puluhan sopir truk lainnya mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk menyelidiki aliran solar dari SPBU Sungai Besar.

 

Warga berharap pemerintah tidak hanya memeriksa distribusi BBM, tetapi juga mengusut kemungkinan keterlibatan pejabat atau oknum aparat yang membiarkan praktik ini berlangsung bertahun-tahun.

Solar Bersubsidi, Siapa yang Menikmati?

Kasus di Kapuas Hulu menjadi cermin lemahnya pengawasan distribusi BBM bersubsidi di daerah terpencil. Di satu sisi, masyarakat kecil harus antre berjam-jam untuk mendapat beberapa liter solar. Di sisi lain, truk besar yang “punya jalur khusus” bisa mengisi sesukanya saat malam tiba.

Publik kini menunggu langkah tegas dari pemerintah pusat dan aparat penegak hukum. Karena di Kapuas Hulu, **solar bukan sekadar bahan bakar — tapi cermin dari siapa yang benar-benar berkuasa.

Awak media berupa konfirmasi dan mencari tahu telibat oknum pejabat yang telibat dalam kebenarannya informasi nya sampai berita terbit.

 

 

(Tim)