Penamerah .co.id,Bengkayang,Kalbar ~Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) senilai Rp10,4 miliar di Kecamatan Lembah Bawang, Kabupaten Bengkayang, kini berada di bawah sorotan tajam publik. Proyek yang dibiayai dari uang rakyat ini diduga kuat dikerjakan tidak sesuai spesifikasi, dengan kualitas konstruksi yang memprihatinkan dan berpotensi merugikan negara serta membahayakan masyarakat.
Pantauan langsung di lapangan menunjukkan beton lantai dan beton dinding bangunan SPAM tampak jauh dari kata layak. Beton terlihat tidak padat, mudah rontok, dan diduga menggunakan pasir dompeng—material yang secara teknis tidak memenuhi standar untuk struktur beton bertulang.
Penggunaan material tersebut memunculkan dugaan serius bahwa mutu beton sengaja ditekan demi menekan biaya, tanpa memikirkan kekuatan dan umur bangunan. Kondisi ini jelas tidak sebanding dengan nilai proyek yang mencapai Rp10,4 miliar. ( 26/12/2025 )
“Kalau ini dibiarkan, bangunan ini bukan soal kapan rusak, tapi tinggal menunggu waktu. Ini seperti bangunan ‘murahan’ tapi dibayar mahal,” ungkap salah satu sumber lapangan dengan nada geram.
Besi Tulangan Diduga Tak Standar, Jarak Pemasangan Diakali
Masalah tidak berhenti di beton. Besi tulangan yang digunakan dalam konstruksi juga diduga tidak sesuai spesifikasi teknis. Di lapangan, terlihat penggunaan besi yang disebut ‘besi banci’, yakni besi dengan diameter lebih kecil dan kekuatan di bawah standar.
Lebih parah lagi, jarak pemasangan besi tulangan dibuat terlalu jarang, jauh dari ketentuan teknis konstruksi beton bertulang. Praktik ini bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi indikasi kuat pengurangan volume material, yang berujung pada penggelembungan keuntungan di balik proyek.
Praktisi konstruksi menilai, jika temuan ini benar, maka bangunan SPAM tersebut rawan retak, cepat rusak, dan berisiko gagal fungsi.
Kepala Dinas PUPR Dinilai Hanya “Bekerja di Atas Meja”
Sorotan keras juga diarahkan kepada Dinas PUPR Kabupaten Bengkayang, khususnya Kepala Dinas yang dinilai tidak menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal.
Kepala Dinas PUPR disebut hanya mengandalkan laporan di atas meja, tanpa turun langsung ke lapangan untuk memastikan kualitas pekerjaan sesuai dengan kontrak dan spesifikasi teknis.
“Kalau kepala dinas tidak pernah turun ke lokasi, lalu siapa yang menjamin mutu proyek? Jangan-jangan laporan rapi, tapi fisik amburadul,” tegas seorang pemerhati kebijakan publik.
Minimnya pengawasan lapangan ini memunculkan dugaan bahwa pengawasan proyek SPAM hanya formalitas, sekadar memenuhi administrasi, tanpa kontrol nyata terhadap kualitas pekerjaan.
Proyek Rakyat, Kualitas “Proyek Siluman”?
Ironisnya, proyek ini mengusung misi mulia: penyediaan air bersih bagi masyarakat. Namun dengan kondisi fisik bangunan yang diduga bermasalah, proyek SPAM Lembah Bawang justru terancam berubah menjadi proyek gagal dan beban anggaran di masa depan.
Masyarakat kini mendesak agar:
– Inspektorat Daerah segera turun melakukan audit,
– Auditor teknis independen memeriksa mutu beton dan besi,
– Aparat penegak hukum menyelidiki potensi penyimpangan anggaran dan pengurangan spesifikasi.
Jika ini terbukti, maka proyek SPAM Rp10,4 miliar tersebut patut diduga sebagai bentuk pemborosan uang rakyat yang terang-terangan.
Hingga berita ini ditayangkan, Dinas PUPR Kabupaten Bengkayang dan pihak pelaksana proyek belum memberikan klarifikasi resmi.Redaksi membuka ruang hak jawab seluas-luasnya demi keberimbangan dan transparansi informasi.
( Djong Eko )













